http://kata.news


HOME I NUSANTARA I MANCANEGARA I EKBIS I OLAHRAGA I IPTEK I HIBURAN

ads

Ikuti China, Erdogan Suarakan Turki 'Buang Dolar'

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Recep Tayyip Erdogan meminta warga Turki untuk menggunakan mata uang domestik lira dalam bertransaksi, bukan dolar Amerika Serikat (AS).

"Janganlah kita menggunakan dolar. Mari kita beralih ke lira Turki," kata Erdogan sebagaimana dikutip dari Hurriyet Daily News, Selasa (26/11/2019).


"Mari kita tunjukkan nasionalisme kita."

Pernyataan ini bukan tanpa alasan. Nilai lira pernah tertekan hebat oleh dolar AS. Bahkan dari Desember 2017 hingga Agustus 2018, lira tertekan hingga 81,02%.


Selain itu, Erdogan juga meminta Bank Sentral Republik Turki (CBRT) untuk kembali memangkas suku bunga. Alasannya agar ekonomi tumbuh dan inflasi bisa mencapai satu digit di 2020.

Di bawah program ekonomi baru Erdogan yang diumumkan September lalu, target tingkat inflasi Turki 2019 adalah 15,9%. Sementara di 2020 inflasi dipatok 9,8% dan 6% pada tahun 2021.

Sebelumnya, China baru-baru ini melakukan aksi "buang dolar AS" atau mengurangi porsi mata uang Paman Sam di dalam cadangan devisanya. Hal tersebut dilakukan guna mengurangi ketergantungan China terhadap dolar di tengah perang dagang dengan AS yang sudah berlangsung dalam lebih dari satu tahun.

"Meskipun China masih mengalokasikan porsi yang tinggi dari cadangan valasnya ke dolar AS, laju diversifikasi ke mata uang lain kemungkinan akan lebih cepat ke depannya," tulis ANZ Research dalam sebuah laporan sebagaimana dilansir dari CNBC Internasional.

ANZ Research memberikan estimasi porsi dolar AS dalam cadangan devisa China saat ini sekitar 59%.


Sebagai mata uang yang paling banyak digunakan dalam perdagangan internasional, besarnya porsi dolar AS dalam cadangan devisa suatu negara adalah hal yang wajar.

Berdasarkan data dari Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) dari total cadangan devisa di dunia ini, porsi dolar AS mencapai 61,63% di kuartal II-2019 dengan nilai US$ 6,79 triliun.

Meski begitu besar, porsi dolar AS di kuartal II-2019 tersebut sebenarnya menurun dibandingkan kuartal I-2019 sebesar 61,86%. Bahkan jika melihat lebih ke belakang porsi tersebut merupakan yang terendah sejak kuartal IV-2013, kala itu porsi dolar AS dalam cadangan devisa global sebesar 61,27%.

Posisi dolar AS sebagai "raja" mata uang dunia dimulai sejak perjanjian Bretton Woods tahun 1944, di mana bank sentral negara-negara dunia menetapkan nilai tukar mata uangnya terhadap dolar AS.

Sejak saat itu dolar AS resmi menjadi mata uang yang paling banyak digunakan dalam perdagangan internasional dan porsinya di cadangan devisa suatu negara menjadi yang terbesar.

[Gambas:Video CNBC]

(sef/sef)

Sumber: CNBCIndonesia.com

Klik tautan (link) sumber jika konten berita terpotong atau tidak lengkap
loading...