http://kata.news


HOME I NUSANTARA I MANCANEGARA I EKBIS I OLAHRAGA I IPTEK I HIBURAN

ads

Pemda surati Kemenhub minta kapal penyeberangan Bengkulu-Enggano

perekonomian masyarakat sangat bergantung pada penjualan hasil bumi

Bengkulu (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Bengkulu dan pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara menyurati Kementerian Perhubungan, meminta kapal pengganti feri Pulo Tello yang rusak sehingga saat ini tidak bisa melayani pelayaran dari Bengkulu menuju Pulau Enggano.

"Bupati Bengkulu Utara sudah bersurat pada 1 November kepada Menteri Perhubungan lalu diikuti pula surat dari Gubernur Bengkulu untuk mengganti feri Pulo Tello yang rusak," kata Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bengkulu, Darpinuddin di Bengkulu, Kamis.

Ia mengatakan keberadaan kapal feri Pulo Tello menjadi urat nadi transportasi masyarakat dari dan menuju Pulau Engggano dengan jadwal dua kali sepekan.

Sejak kapal tersebut mengalami kerusakan pada bagian lambung karena menabrak karang akibat cuaca buruk pada Oktober 2019, praktis transportasi ke Pulau Enggano tersendat.

Baca juga: Lanal Bengkulu gelar ekspedisi Pulau Enggano

Saat ini hanya ada satu kapal penyeberangan yakni kapal perintis sabuk nusantara KM 46 yang untuk sementara menggantikan KM 52 yang menjalani perawatan rutin atau docking
​​​​​
Kapal perintis KM 46 tersebut memiliki kapasitas yang terbatas untuk mengangkut hasil bumi seperti pisang, ikan, emping, kakao dan lainnya dari Pulau Enggano menuju Kota Bengkulu.

"Hasil bumi warga terutama pisang dari Pulau Enggano yang dikapalkan ke Bengkulu mencapai ratusan ton per hari, sementara kapasitas KM 46 sangat terbatas, hanya mampu mengangkut 30 ton per hari," ucapnya.

Darpinuddin berharap, surat dari pemda provinsi dan Bengkulu Utara tersebut segera direspon oleh Kementerian Perhubungan dengan menyediakan kapal feri pengganti untuk melayani masyarakat di pulau terluar itu.

Baca juga: Dua bulan pasokan elpiji di Pulau Enggano kosong

Sementara warga Pulau Enggano, Edward Kaahua mengatakan sejak kapal feri tidak beroperasi, sebagian besar petani membiarkan pisang busuk di batang karena tidak bisa dibawa ke Bengkulu.

"Padahal perekonomian masyarakat sangat bergantung pada penjualan hasil bumi, terutama didominasi pisang kepok," katanya.

Ia berharap, pemerintah segera mencarikan solusi untuk menyediakan alat transportasi yang dapat digunakan mengangkut penumpang dan hasil bumi dari Pulau Enggano.

Pulau Enggano merupakan pulau terluar berpenghuni lebih dari 3.000 jiwa, berada di tengah Samudera Hindia berjarak 106 mil laut dari Kota Bengkulu.

Baca juga: Di Pulau Enggano PLTS terpusat terbengkalai

Pewarta: Helti Marini S
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019



Sumber: Antaranews.com

Klik tautan (link) sumber jika konten berita terpotong atau tidak lengkap
loading...