http://kata.news


HOME I NUSANTARA I MANCANEGARA I EKBIS I OLAHRAGA I IPTEK I HIBURAN

ads

Simak! 20 Risiko Pemicu Ketidakpastian Ekonomi Global di 2020

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketidakpastian diyakini masih akan mewarnai ekonomi global tahun depan. Dilansir CNBC International, Kepala Ekonom Deutsche Bank Torsten Slok merilis 20 risiko yang berpotensi mengancam pasar pada 2020.

Perinciannya adalah sebagai berikut:

1. Peningkatan dalam ketimpangan kekayaan, ketimpangan pendapatan, dan ketimpangan layanan kesehatan


2. Kesepakatan perdagangan AS-China fase satu tetap tidak ditandatangani sehingga memicu berlanjutnya ketidakpastian

3. Ketidakpastian perang dagang terus membebani keputusan perusahaan dalam belanja modal

4. Pertumbuhan yang lambat di China, Eropa, dan Jepang yang sedang berlangsung memicu penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS)

5. Kemungkinan government shutdown di sejumlah negara

6. Ketidakpastian pemilu AS

7. Antitrust, privasi, dan regulasi teknologi

8. Orang asing kehilangan selera untuk mengambil fasilitas kredit AS dan Departemen Keuangan AS setelah pilpres

9. Ekspansi fiskal a la Modern Monetary Theory mendorong pertumbuhan secara signifikan di AS dan/atau Eropa

10. Tingkat utang pemerintah AS mulai berpengaruh pada suku bunga jangka panjang

11. Ketidakcocokan antara permintaan dan penawaran dalam T-bills serta lonjakan tingkat repo lainnya

12. The Fed enggan memotong suku bunga di tahun pemilu

13. Kondisi kredit semakin ketat

14. Situasi kredit diperparah lantaran lebih banyak perbedaan antara kredit konsumen level CCC dan BBB

15. Lebih banyak perusahaan jatuh ke level BBB

16. Semakin banyak utang yang menghasilkan dampak negatif

17. Penurunan laba perusahaan

18. Penyusutan industri otomotif global

19. Jatuhnya harga rumah di Australia, Kanada, dan Swedia.

20. Ketidakpastian Brexit berlanjut.

Yang teratas dalam daftar ini adalah 'peningkatan berkelanjutan dalam ketimpangan kekayaan' yang menjadi isu utama dalam pemilihan presiden AS saat ini. Kandidat presiden AS dari Partai Demokrat, Elizabeth Warren dan Bernie Sanders telah menyerukan pajak tambahan pada crazy rich AS untuk mempersempit kesenjangan kekayaan.

Sementara ketegangan perdagangan antara AS dan China telah mereda baru-baru ini karena kedua pihak berupaya untuk menyelesaikan perjanjian terbatas. Walaupun pasar masih menghadapi ketegangan akibat perang perdagangan.

Presiden AS Donald Trump meragukan kemajuan baru-baru ini dengan mengatakan bahwa ia belum setuju untuk menurunkan tarif di Cina. Hal itu mengurangi harapan tentang resolusi 'damai dagang' yang akan datang.

Pemerintahan Trump telah mengenakan tarif lebih dari US$ 500 miliar pada barang-barang Cina, sementara Beijing telah mengenakan bea sekitar US$ 110 miliar pada produk-produk AS. China telah mendorong AS untuk menghapus tarif sebagai bagian dari kesepakatan 'fase satu'.

Deutsche Bank khawatir bahwa ketidakpastian perang perdagangan akan terus membebani pengeluaran perusahaan.

[Gambas:Video CNBC]

(miq/miq)

Sumber: CNBCIndonesia.com

Klik tautan (link) sumber jika konten berita terpotong atau tidak lengkap
loading...