http://kata.news


HOME I NUSANTARA I MANCANEGARA I EKBIS I OLAHRAGA I IPTEK I HIBURAN

ads

Sukses B20 Lanjut Kejar Setoran di B30

INILAHCOM, Jakarta - Sukses manadatory biodiesel 20% minyak sawit (B20) bakal dilanjutkan dengan B30. Diberlakukan tahun depan, uji cobanya dimulai bulan depan.

Hal itu disampaikan Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Paulus Tjakrawan dalam acara Indonesia Biodiesels Leader Forum di Jakarta, Jumat, (8/11/2019).

Kata Paulus, uji coba B30 menyangkut distribusi, transportasi dan penyimpanan. "Ini trial distribusi lebih luas, disitu kita mulai implementasi belajar," kata Paulus.

Paulus menerangkan, untuk menerapkan uji coba implementasi B30 ini ada tiga hal yang diperlukan. Pertama, Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM untuk menambah kuota Fatty Acid Methyl Ester (FAME).

Kedua, kontrak antara Badan Usaha Bahan Bakar Minyak (BUBBM) dan Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BUBBN). Terakhir, Purchase order (PO) antara keduanya. "Ada Shell dan banyak lainnya termasuk Pertamina," imbuhnya.

Kebutuhan FAME pada 2019 mencapai 6,6 juta kiloliter. Jika uji coba implementasi diterapkan bulan November 2019 maka dibutuhkan penambahan FAME sebesar 400 ribu kiloliter, namun jika diterapkan Desember butuhkan 250 ribu kiloliter.
"Tinggal nunggu aja untuk percepatan, kemudian kontrak sama PO," jelasnya.

Sebelumnya Berdasarkan perhitungan Kementerian ESDM diperlukan setidaknya 9,6 juta kiloliter FAME untuk mendukung B30 pada tahun 2020. Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, F.X Sutijastoto mengatakan perkiraan kebutuhan FAME 2020 sebesar 9,6 juta kiloliter didasarkan pada kebutuhan FAME 2019 sebesar 6,6 juta kiloliter.

Sementara angka 6,6 juta kiloliter kebutuhan FAME 2019 berdasarkan perubahan dari perkiraan awal 6,2 juta kiloliter. "Perkiraan kebutuhan 9,6 juta kiloliter FAME ini didasarkan angka perubahan pada Agustus 2019 menjadi 6,6 juta kiloliter," ungkapnya di Kementrian ESDM, Senin, (14/10/2019).

Kata paulus, jika ada perubahan dari 9,6 juta kiloliter ini berarti perkiraan tidak tepat. Karena pada tahun 2019 juga ada perubahan roadmapnya juga berubah. "Laiya 9,6 juta kiloliter kalau berubah berarti perkiraan kita nggak tepat dong," kata dia. [tar]



Sumber: Inilah.com

Klik tautan (link) sumber jika konten berita terpotong atau tidak lengkap
loading...